Makna Lebaran di Beberapa Kalangan

Sebagian masyarakat menganggap lebaran sebagai moment yang tidak boleh terlewatkan sedikitpun. Terlihat, bagaimana ketika mereka menyiapkan hari raya dengan berbagai hal yang baru. Seperti baju baru, jajan suguhan tamu yang enak-enak, suasana rumah baru (biasanya rumah dicat dengan warna yang berbeda dengan sebelumnya dan dibersihkan sampai sela-sela yang tidak seperti biasanya sebelum lebaran).
Ada juga kalangan yang menyikapi hari raya dengan biasa-biasa saja. Mereka tidak sedikitpun berpikiran untuk merencanakan rute silaturahmi kepada sanak saudara ataupun kepada para tetangga. Hal tersebut terlihat ketika orang lain pada umumnya sibuk mempersiapkan suguhan di ruang tamu untuk merayakan 1 syawal. Berbeda dengan mereka, justru sibuk mempersiapkan lapak yang biasanya digunakan untuk berjualan sehari-hari.
Tak heran, beberapa kalangan tertentu memang sengaja tidak mempersiapkan waktu secara khusus untuk sekedar merayakan lebaran bersama keluarga dan para saudara. Ada sedikitnya empat faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pertama karena faktor ekonomi, minimnya keuangan apabila tidak diimbangi dengan bekerja setiap hari bisa menjadi penyebab utama. Atau pada sisi lain bisa diartikan sebagai tuntutan pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan. Sebab jika ditinggalkan dapat membahayakan keselamatan orang lain atau kedudukan jabatan seseorang tersebut dalam perusahaan. Contohnya seperti penjual bakso, pedagang kaki lima, polisi, dokter, perawat, dan lain sebagainya.
Kedua karena faktor hati/perasaan, yaitu tidak adanya dorongan kuat/kesadaran secara pribadi yang terbangun atau didorong oleh orang lain untuk bersilaturahmi. Hal ini yang seringkali menjadi penyebab putusnya silaturahmi. Karena secara tidak langsung dengan tidak adanya perasaan dalam diri seseorang tentang keinginan untuk bertemu sanak keluarga atau saudara, berarti ikatan silaturahmi secara batin telah terlepas sedikit demi sedikit. Ditambah lagi dengan tidak adanya dorongan yang kuat di antara kedua belah pihak untuk bertemu dan saling menyapa.
Ketiga, tidak bersilaturahmi karena jarak tempat tinggal yang sangat jauh dengan keluarga dan saudara atau jumlah saudaranya sedikit. Dalam suatu istilah dikatakan, bahwa jarak bukanlah penghalang untuk sebuah pertemuan. Tetapi di sisi lain, akan berbeda problematikanya apabila jarak tersebut ditunjang dengan beberapa penyebab lain seperti tidak adanya biaya untuk transportasi, oleh-oleh lebaran, dan sebagainya. Problem-problem tersebut akan menjadi masalah apabila seseorang tersebut tidak mempersiapkan jauh-jauh hari. Sehingga ketika tiba saatnya untuk mudik, sama sekali tidak ada persiapan dan akhirnya moment berlebaran di tempat seberang dibatalkan.
Keempat, tidak turut bersilaturahmi karena sakit. Hal ini sebenarnya disebabkan pula oleh pelaku yang kurang menjaga dan memperhatikan pola makan selama puasa ataupun setelahnya. Kelelahan, salah makan, atau tidak mengonsumsi makanan bergizi bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya. Selama puasa, tentu tubuh memerlukan asupan lebih banyak karena tenaga yang dikeluarkanpun lebih ekstra. Namun prakteknya, banyak kalangan terutama muda-mudi yang masih bersekolah, kurang memperhatikan pola makan secara baik.
Padahal tenaganya harus dikuras untuk berpikir, menerima pelajaran di bangku sekolah, dan mengerjakan tugas. Tapi di sisi lain, tidak diimbangi dengan gizi yang cukup selama berbuka maupun sahur. Seperti minum air putih minimal 8 gelas sehari, mengonsumsi buah-buahan, dan lain-lain.
Oleh karena itu, agar ajang silaturahmi dapat terlaksana dengan lancar, alangkah baiknya jika masing-masing individu menyiapkan diri secara sungguh-sungguh. Dimulai dari persiapan secara mental dan batin, kemudian pengaturan pola makan yang baik dan benar, serta persiapan dalam segi finansial untuk keperluan mudik, sedekah, pakaian, suguhan, dan sebagainya. Namun hal tersebut bukan berarti dapat dijadikan alas an bahwa ketika hari raya harus siap secara finansial, yang terpenting adalah siap secara batin dan fisik. Artinya sehat lahir-batin, agar makna silaturahmi dapat benar-benar meresap ke dalam hati.
Hal itu dapat memberikan setidaknya efek positif bagi kehidupan di kemudian hari. Karena silaturahmi sesungguhnya menjadi sebuah tanda bahwa terdapat hubungan yang tidak terputus antara dua insan atau selebihnya. Dan hubungan yang tidak terputus menjadi tanda terciptanya suatu kerukunan. Suatu kerukunan tersebutlah yang dapat memberikan rasa tenteram dan damai di dalam sanubari setiap manusia. Semoga lebaran tahun depan dapat lebih baik dari tahun ini.

Nn, 100519

Pasak

Riuh,
Beriak,
Bergelombang..
Berdebu,
Menepiskan harapan..
Satu per satu, tanggal
Satu per satu, tumbuh
Dua per dua, bersahutan
Empat per empat, mendambakan
Kelu,
Kaku,
Dilema tanpa aksara.
Namun, penuh sesak
Jika terlalu mengaksara.
Yang ku harap hanya satu.
Hadirmu..

Nn, 060519

Rancu

Hantu,
Iya bagai hantu
Wujudmu sayu.
Bagai asap..
Wujudmu mengepul tak jelas,
Datang bagai angin,
Yang semilir sebentar.
Semilir pergi.
Layak embun,
Menyegarkan namun membasahi.
Pun bagai kuntum,
Sebentar semerbak.
Sebentar hilang.

Lagi..
Bagai mimpi,
Yang sebentar datang.
Dan sebentar pergi.

Nj, 050519

Romadlon, katanya?

Kata-kata yang disampaikan ketika kajian yang aku ikuti sejak duduk di bangku SMP dulu terus terngiang hingga sekarang.
“Allah itu tidak terikat ruang dan waktu!”
“Ruang dan waktu adalah salah satu ciptaan-Nya. Coba para manusia, di balik tembok ini apakah hari Sabtu juga, sama seperti hari ini? Coba buka tas anda semua, apakah harinya juga sabtu? Coba cek seluruh yang ada punyai, yang paling terkecil, apakah juga hari Sabtu?”
“Lihat! Dari satu ciptaan-Nya saja yaitu hari, kita tidak bisa menghindar sedikitpun!. Di dalam tubuh kita hari apa? Di jantung kita hari apa? Sabtu juga kan?”
“MasyaAllah, dengan ciptaan-Nya saja kita tidak mampu untuk menghindar atau keluar dari hari Sabtu. Lalu bagaimana kita dengan Sang Pencipta?”
Sejak saat itu, anggapanku terhadap ruang dan waktu hanyalah semu. Artinya, kita sebagai manusia ternyata banyak tertipu oleh ruang dan waktu. Tidak terasa, hari demi hari dan umur demi umur kita tinggalkan dengan tanpa kesan yang berbekas sedikitpun. Setiap hari setiap umur, sama saja dan tak ada bedanya atau bahkan tidak meningkat satu digit saja.
Setiap harinya, kita terlalu banyak meratap dan mempersiapkan diri untuk manusia.
“Baju apa ya yang kira-kira pantas aku pakai ke pesta malam nanti?”
“Sandal mana ya yang cocok aku pakai buat sholat Id besok?”
“Kira-kira aku cantik nggak ya pakai jilbab ini, dipadukan dengan baju yang ini?”
Waktu dan ruang memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Tanpa waktu dan ruang mungkin kehidupan di dunia ini tidak akan mampu diterima akal.
Namun, apa salahnya sejenak kita berpikir tentang hal itu. Berlalunya romadlon bukan berarti berlalu pula kebaikan-kebaikan yang biasanya kita lakukan di bulan romadlon (katanya) sehingga kita meninggalkan kebaikan-kebaikan tersebut di bulan-bulan berikutnya.
Berlalunya romadlon, bukan berarti kita kehilangan semangat untuk terus menyongsong kehidupan dunia-akhirat yang lebih bermartabat.
Tutupnya bulan romadlon bukan menjadi momen untuk kita tidak lagi berbakti pada orang tua.
Mangkatnya bulan romadlon bukan berarti kita tidak pernah menyisihkan waktu luang untuk sekedar bersih-bersih rumah dan berbagi kepada sesama.
Pulangnya bulan romadlon bukan berarti menjadi titik selesai bagi kita untuk terus berbenah diri.
Cobalah kita berpikir..
Andaikan Tuhan tidak menciptakan momen seperti bulan romadlon, mungkin tidak akan ada istilah “mudik”, anak pulang ke rumah orang tuanya.
Tidak akan ada istilah “sangu”, yang membuat riang para anak kecil karena mendapat tambahan uang jajan dari para orang tua.
Tidak akan berdengung ucapan “mohon maaf lahir dan batin” karena katanya setiap romadlon harus saling memaafkan dan setiap manusia kembali seperti bayi yang tidak punya dosa.
Semoga momen romadlon tidak berlalu sampai di sini saja, namun akan terus kita kenang dan kita amalkan di sepanjang hari berikutnya. Aamiin..

Ng, 040519.