Romadlon, katanya?

Kata-kata yang disampaikan ketika kajian yang aku ikuti sejak duduk di bangku SMP dulu terus terngiang hingga sekarang.
“Allah itu tidak terikat ruang dan waktu!”
“Ruang dan waktu adalah salah satu ciptaan-Nya. Coba para manusia, di balik tembok ini apakah hari Sabtu juga, sama seperti hari ini? Coba buka tas anda semua, apakah harinya juga sabtu? Coba cek seluruh yang ada punyai, yang paling terkecil, apakah juga hari Sabtu?”
“Lihat! Dari satu ciptaan-Nya saja yaitu hari, kita tidak bisa menghindar sedikitpun!. Di dalam tubuh kita hari apa? Di jantung kita hari apa? Sabtu juga kan?”
“MasyaAllah, dengan ciptaan-Nya saja kita tidak mampu untuk menghindar atau keluar dari hari Sabtu. Lalu bagaimana kita dengan Sang Pencipta?”
Sejak saat itu, anggapanku terhadap ruang dan waktu hanyalah semu. Artinya, kita sebagai manusia ternyata banyak tertipu oleh ruang dan waktu. Tidak terasa, hari demi hari dan umur demi umur kita tinggalkan dengan tanpa kesan yang berbekas sedikitpun. Setiap hari setiap umur, sama saja dan tak ada bedanya atau bahkan tidak meningkat satu digit saja.
Setiap harinya, kita terlalu banyak meratap dan mempersiapkan diri untuk manusia.
“Baju apa ya yang kira-kira pantas aku pakai ke pesta malam nanti?”
“Sandal mana ya yang cocok aku pakai buat sholat Id besok?”
“Kira-kira aku cantik nggak ya pakai jilbab ini, dipadukan dengan baju yang ini?”
Waktu dan ruang memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Tanpa waktu dan ruang mungkin kehidupan di dunia ini tidak akan mampu diterima akal.
Namun, apa salahnya sejenak kita berpikir tentang hal itu. Berlalunya romadlon bukan berarti berlalu pula kebaikan-kebaikan yang biasanya kita lakukan di bulan romadlon (katanya) sehingga kita meninggalkan kebaikan-kebaikan tersebut di bulan-bulan berikutnya.
Berlalunya romadlon, bukan berarti kita kehilangan semangat untuk terus menyongsong kehidupan dunia-akhirat yang lebih bermartabat.
Tutupnya bulan romadlon bukan menjadi momen untuk kita tidak lagi berbakti pada orang tua.
Mangkatnya bulan romadlon bukan berarti kita tidak pernah menyisihkan waktu luang untuk sekedar bersih-bersih rumah dan berbagi kepada sesama.
Pulangnya bulan romadlon bukan berarti menjadi titik selesai bagi kita untuk terus berbenah diri.
Cobalah kita berpikir..
Andaikan Tuhan tidak menciptakan momen seperti bulan romadlon, mungkin tidak akan ada istilah “mudik”, anak pulang ke rumah orang tuanya.
Tidak akan ada istilah “sangu”, yang membuat riang para anak kecil karena mendapat tambahan uang jajan dari para orang tua.
Tidak akan berdengung ucapan “mohon maaf lahir dan batin” karena katanya setiap romadlon harus saling memaafkan dan setiap manusia kembali seperti bayi yang tidak punya dosa.
Semoga momen romadlon tidak berlalu sampai di sini saja, namun akan terus kita kenang dan kita amalkan di sepanjang hari berikutnya. Aamiin..

Ng, 040519.